Mungkin Ini Beberapa Alasan Kenapa Para Sarjana Pendidikan Gak Mau Jadi Guru

- 10/18/2017


Kamu pasti punya saudara atau teman yang dapet gelar Sarjana jurusan pendidikan. Sebagian dari mereka ada yang bekerja sebagai guru, ini lazim. Tapi ternyata ada juga yang bekerja di bidang selain pendidikan. Dan kamu mungkin pernah bertanya, atau cuma merasa heran kepada mereka yang bekerja di luar jalur pendidikan itu, “Kok gak ngajar?” atau “Kenapa milih kerjaan lain? Kenapa gak jadi guru aja?”

Atau mungkin kamu sendiri, seorang Sarjana Pendidikan yang bekerja di luar dunia pendidikan dan sempat merasa pusing menghadapi pertanyaan-pertanyaan tadi.

Emang kenapa sih, banyak sarjana pendidikan gak mau jadi guru? Apakah ini alasannya?

1. Gajinya kecil

Guru emang pahlawan tanpa tanda jasa. Tapi, bukan berarti guru gak butuh uang. Kamu yang pernah ngajar sebagai guru honorer pasti tahulah berapa gaji guru honorer. Banyak lulusan S1 Pendidikan yang ingin menjadi guru PNS tapi proses melewati tahapan honorernya itu loh, berat! Apalagi kalo liat honornya.

Sebenarnya bisa aja sih mengajar di institusi pendidikan lain selain sekolah negeri. Misalnya, di bimbel, tempat kursus, atau sekolah swasta. Tapi, mengingat jumlah sarjana pendidikan yang banyak, otomatis persaingannya juga ketat. Malah, kadang ada juga sarjana lulusan non-pendidikan ikut seleksi untuk menjadi staf guru di institusi-institusi tersebut. Jadi, daripada rebutan profesi guru, akhirnya kamu memilih profesi lain.


2. Nggak sesuai passion

Mau dibayar semahal apapun, kalau kamu bekerja pada bidang yang tidak menjadi passion-mu, pasti pekerjaan pun jadi terasa lebih berat. Begitu pula para sarjana pendidikan yang menolak menjadi guru. It’s just simply not their passion. “Lah, terus, kalo bukan passion-nya, kenapa dulu kuliah ngambil jurusan pendidikan?” Simak poin selanjutnya yaa.....


3. Sebelumnya memilih jurusan pendidikan karena terpengaruh orang lain

Entah pengaruh halus yang berupa bujukan dan rayuan disertai argumentasi, ataupun yang bersifat keras seperti pemaksaan, pasti ada yang mengalami hal ini. Jadi, mungkin aja sebenarnya dulu kamu sudah memiliki pilihan selain jurusan pendidikan. Tapi, kemudian pihak keluarga atau teman membujuk atau memaksamu hingga akhirnya kamu "terjerumus" masuk jurusan pendidikan.


4. Dapet beasiswa di bidang pendidikan

Mungkin dulu kamu apply untuk beberapa beasiswa. Pokoknya, setiap ada info beasiswa dan bisa memenuhi persyaratannya, kamu langsung apply. Tapi, entah bagaimana, satu-satunya beasiswa yang berhasil kamu dapatkan adalah di jurusan pendidikan. Daripada mendaftar ke jurusan lain yang kamu impikan tapi tidak mendapat beasiswa, akhirnya jurusan pendidikan pun dihajar saja, meskipun tidak yakin akan menyukai bidang tersebut. Akibatnya, ketika lulus dan memasuki dunia kerja, kamu akan memilih profesi di luar bidang pendidikan.


5. Tidak menyukai ranah pendidikan

Mungkin sebenarnya menjadi guru adalah cita-cita kamu sejak dulu hingga akhirnya memilih jurusan pendidikan. Namun, ketika menjalani praktek kerja atau magang, kamu mendapati kenyataan jika dunia pendidikan tidak seindah yang kamu kira sebelumnya. Banyak kecurangan, pelanggaran aturan, ketidakadilan terjadi di sekolah tempatmu magang. Akibatnya, kamu memutuskan untuk tidak bekerja di lingkungan pendidikan setelah lulus kuliah.


6. Nggak suka anak kecil

Nah, ini biasanya dialami para cowok. Cewek juga ada sih, tapi lebih sedikit jumlahnya. Mungkin sebenarnya kamu menyukai dunia pendidikan, tapi ketika harus menghadapi siswa-siswa SD, kesulitan pun datang. Namanya juga anak kecil, pasti ada aja masalah kecil dengan temannya atau jatuh terpeleset, langsung nangis meraung-raung. Diberi tugas kelompok, malah bermain kelompok. Yah, pokoknya anak kecil memang kadang bertingkah luar biasa, perlu kesabaran ekstra untuk menghadapinya. Akhirnya, daripada harus berhadapan dengan monster-monster kecil itu, kamu pun lebih memilih pekerjaan lain yang terasa lebih ‘aman’.


7. Merasa terlalu 'bandel' untuk jadi guru

Kamu merasa bahwa kepribadian kalian terlalu 'liar' untuk menjadi seorang guru. Padahal, seorang guru selalu dituntut untuk bisa menjadi panutan bagi siswa-siswanya. Melihat banyaknya peraturan yang harus ditaati, rasanya jadi enggan berkecimpung di dunia pendidikan. Tidak boleh berambut gondrong, tidak boleh memakai kuteks warna-warni, tidak boleh mengecat rambut, dan seabrek peraturan lainnya. Daripada kamu terpaksa menjadi pribadi yang palsu, akhirnya memilih profesi selain guru saja.


8. Kurang menantang

Bagi kamu yang menyukai tantangan dan kejutan, profesi sebagai guru mungkin kurang menantang. Bukan berarti menjadi guru itu pekerjaan mudah loh ya. Hanya saja, pekerjaan di bidang pendidikan itu mungkin cenderung terasa ‘aman’. kamu sudah tahu pola pekerjaannya akan seperti apa, gajinya berapa, apa yang dihadapi, masalah apa yang kira-kira muncul dan bagaimana solusinya. 

Banyak sarjana pendidikan memilih bekerja di luar bidang pendidikan karena lebih menantang; misalnya karena pola pekerjaannya tidak mudah ditebak, tantangannya berganti-ganti, persaingannya lebih ketat, lokasi pekerjaannya berpindah-pindah, atau jabatannya bisa berganti sesuai perkembangan karir. Bagi kamu yang mudah bosan, pekerjaan demikian lebih menyenangkan daripada profesi guru.


9. Terlanjur dapet pekerjaan di bidang lain

Di dalam hatimu, mungkin kamu bercita-cita menjadi guru. Tapi, ketika baru lulus dan mencoba melamar ke sana-sini, rupanya agan-sista diterima di sebuah perusahaan yang sama sekali tidak berurusan dengan pendidikan. Didukung lingkungan kerja yang nyaman dan gaji yang besar, jadilah kamu melupakan profesi guru yang dulu sempat dicita-citakan.



Artikel ini sudah terlebih dahulu ditulis di sini dengan judul "Kenapa Banyak Sarjana Pendidikan Gak Mau Jadi Guru"