6 Alasan Kenapa Para Suami Juga Perlu Dapet Cuti Saat Istri Melahirkan

- 10/27/2017



Cuti melahirkan untuk laki-laki/suami mungkin gak terlalu populer ya di Indonesia, karena memang keliatannya belum ada regulasi yang standar dan resmi yang mengatur hal ini.

Tapi di beberapa negara, ternyata suami juga dapet cuti yang panjang kalo istrinya melahirkan loh, ada yang memberikan cuti 3 bulan, bahkan 5 bulan, dengan presentase upah dibayarkan 60 hingga 80 persen.

Tapi sekarang ridmee ga akan bahas soal kebijakan tersebut di negara kita ya, karena jujur ridmee tidak berkompeten dalam bidang tersebut. Kita bahas yang enteng-enteng aja deh, alesan kenapa para suami juga sebaiknya dapet jatah cuti panjang kalo istrinya melahirkan?


1. Biar para suami merasakan penderitaan dan perjuangan sang istri saat mengandung dan melahirkan

Dengan mendampingi semua proses yang istri lalui dalam melahirkan seorang bayi ke dunia, suami bakal tau gimana beratnya menjadi seorang ibu. Efeknya, suami bakal tambah sayang sama istrinya,sekaligus lebih sayang lagi sama ibunya, mengingat perjuangan luar biasa yang mereka jalankan. Rasa empati suami bakal tumbuh, kesetiaan semakin terjalin, dan mental akan semakin kuat serta matang.

2. Membantu memulihkan mental istri pasca melahirkan, serta membantu menangani bayi

Proses mengandung dan melahirkan jelas bukan urusan sepele, apalagi bagi yang baru pertama kali mengalaminya. mental seorang ibu sangat diuji. Sakitnya melahirkan serta lelahnya meng-handle newborn-baby tidak jarang mendatangkan baby blues syndrome bagi sang ibu. Di situlah peran suami dibutuhin banget, buat menenangkan, buat tetap siaga kalo istri butuh, dan buat membantu meng-handle bayi khususnya di malam hari. Dan hal tersebut udah pasti gak bisa dijalanin beberapa hari aja. Sang suami harus telaten mengawasi istri dan bayinya sampai kondisi mental sang ibu bisa stabil dan normal seperti sedia kala.

3. Membantu meng-handle anak yang lainnya (kalau ada) selama masa pemulihan ibu

Seorang yang baru melahirkan pastinya butuh waktu buat masa pemulihan. Dan dalam menjalani fase ini, dia sudah pasti pula butuh seseorang yang bisa membantunya meng-handle atau mengasuh anak-anak yang lainnya (kalau ada). Di sini lagi-lagi peran suami dibutuhkan. Pilihan kedua para anak untuk mengurus, mengawasi, dan mengajak main mereka setelah ibu pastinya ayah. Dan untuk kasus ini, para ayah sebaiknya tidak hanya mengasuh atau mengajak main aja. Tapi juga ngasih pemahaman tentang hubungan kakak-adik, jelaskan bahwa sekarang dia udah menjadi kakak, berikan pemahaman supaya nggak ada kecemburuan dari kakak terhadap si adik.


4. Menjalin bonding antara ayah dan anak

Inget, ugas ayah itu bukan cuman "nyari duit" ya, tapi juga kudu terlibat dalam proses tumbuh kembang, dan juga proses pendidikan anak ke depannya. Dan hal tersebut udah pasti harus terjalin sejak dini. Dengan menyaksikan pertumbuhan anak di bulan-bulan pertama kelahirannya, feeling sang ayah bisa sangat terbangkitkan, perasaan bangga, bahagia, haru pasti campur aduk jadi satu, dengan gitu, ikatan alias bonding antara ayah dan anak bakal lebih kuat, sehingga sang ayah bisa menjadi lebih siap mengiringi proses tumbuh kembang buah hatinya di kemudian hari.


5. Membantu mengerjakan pekerjaan rumah tangga

Mungkin ada beberapa keluarga baru yang tinggal gak bareng orang tua, selain itu gak punya ART pula. Kalau udah gitu, beban pekerjaan rumah udah pasti jadi kewajiban suami-istri. Kalau biasanya dikerjain bareng-bareng, nah ketika istri sedang dalam pemulihan pasca melahirkan berarti load kerjaan suami sedikit bertambah. Mau nggak mau.

Jadi, dengan memiliki cuti yang panjang, setidaknya sang suami bisa fokus membantu istri sampai kondisinya bener-bener pulih.


6. Bakalan kurang tidur

Di bulan-bulan pertama kelahirannya, bayi pasti masih sering kebangun-bangun di malam hari, biasanya karena laper, gerah, ato popok basah. Pola tidurnya masih belum terbentuk seperti kita yang malam tidur, dan bangun besok paginya.

Proses bangunnya bayi ini udah pasti melibatkan sang ayah dong? Biarpun mungkin nggak ikut ganti popok dan lain-lain, kebangun-kebangun aja sih pasti ya. Kualitas dan kuantitas tidur berkurang, potensi ngantuk di keesokan harinya pasti ada, apalagi begadangnya gak semalem-dua malem, tapi hampir setiap malem. Nah, kebayang dong kalo setiap hari ngantuk tapi kudu pergi kerja?





Artikel ini sudah terlebih dahulu ditulis di sini dengan judul "6 Alasan Kenapa Suami Juga Sebaiknya Dapet Cuti Panjang Saat Istrinya Melahirkan"