Belajar Dari Umar bin Khattab

- 7/31/2017


Ketika itu aku sedang duduk termenung, merasakan suasana sekitar yang mulai tenang dibuai sepoi, berdiam di bawah pohon rindang yang terus berbagi udara denganku. Ketika lamunanku terus mengawang, datang seseorang yang tiba-tiba menyodorkan tangannya padaku.
“Affan” katanya memperkenalkan diri

“Oh, Aku Zahir” Jawabku sambil menyambut jabatnya”

“Apakah kau berkeluarga?” Tanyanya sambil membenahi tempat untuk dia duduk bersila.

“Ya” Jawabku, “Seorang istri dan seorang putra...”

“Baguslah, maukah kau berbagi cerita denganku?”


“Haruskah aku melakukannya? Bahkan aku tidak mengenalmu” Jawabku

“Aku hendak berkeluarga, aku mencari banyak acuan...”

“Begitu kah? Baiklah jika aku bisa membantumu, tapi aku pun belum sempurna sebagai kepala keluarga” Timpalku.

“Tak mengapa, tak ada orang yang sempurna, kan?” Dia merespon. Aku cuma tersenyum.

“Apakah kalian bertengkar?” Dia membuka pertanyaan.

“Sekarang?”

“Tidak, maksudku, apakah pertengkaran biasa ada di antara kalian?”

“Tentu saja, hal itu tidak mungkin terhindarkan dalam berumah tangga.”

“Kalian beradu argumen?

“Ya, kadang, tapi aku sebisa mungkin mencoba untuk meredam dan tidak terus menimpali, biasanya aku lebih memilih diam.

“Ah, mungkin kau memang penyabar...”

“Oh tidak, aku orang yang sangat pemarah, sumbuku pendek, dulu seringkali aku marah membabi-buta, merusak barang, membanting, menginjaknya hingga hancur”

“Lalu?” Tanya Affan menanti kalimat berikutnya dariku.

“Hmmm, kini mungkin kadang sifat burukku sedikit muncul, tapi sebisa mungkin selalu aku redam”

“Sulitkah?”

“Ya, pada awalnya, namun seiring berjalannya waktu, aku terus belajar. Aku pernah membaca sebuah kutipan, yang kurang lebih bunyinya seperti ini ‘A true lover will mad at us for hundred things, yet forgive us for thousand reasons'”

“Terjemahkanlah, jelaskan, aku tak pandai berbahasa asing” Kata Affan polos.

Aku tersenyum sejenak. “Seorang pecinta sejati mungkin akan marah kepada kita karena ratusan hal, tapi selalu memaafkan karena beribu alasan”

“Oh ya, aku bisa menangkapnya. Kamu melakukan itu?”

“Aku mencoba melakukannya. Pernahkah kau mendengar riwayat Umar dalam menghadapi istrinya?

“Umar? Umar siapa?

“Umar bin Khattab, Radiallahu anhu’”

“Oh aku tau beliau, tapi tidak tahu tentang riwayat yang kau sebutkan tadi, maukah kau menceritakannya?" Affan nampak antusias.



“Singkat saja, Umar adalah manusia yang sangat disegani seluruh penghuni bumi, bahkan konon syetan pun gentar padanya, tapi ketika beliau dimarahi istrinya, dia hanya diam, tak melawan”

“Mengapa?” Tanya Affan singkat.

Aku pun mulai bercerita,
“Umar berkata ‘rumahku teramat sangat sederhana, jangankan pembantu, untuk kebutuhan sehari-hari saja kadang aku tak mampu memberikannya pada Istriku, dan aku sama sekali tidak bisa membantu meringankan pekerjaannya karena kesibukanku sebagai Khalifah. Berat sekali beban yang harus dia tanggung, setelah dia membersihkan seisi rumah sendiri, memasak untuk diriku, merawat dan mendidik anak-anakku.

Semua istriku lakukan sendiri karena aku tidak bisa membayar pembantu untuk meringankan bebannya, padahal semua itu adalah tugasku. Memuliakan seorang istri di dalam rumahnya adalah tugas suami. Tapi aku terlalu miskin menggaji pembantu sehingga dia harus mengerjakan semua sendiri. Untuk itu hanya sekedar di omeli saja kenapa aku harus marah, demi melihat pengorbanannya kepada keluarga?’” Aku mengakhiri ceritaku, tapi Affan hanya terdiam. “mengapa melamun?” tanyaku kemudian.

“Oh tidak, mulia sekali dia, apakah kau melakukan itu?”

Aku tersenyum sejenak. “Aku manusia biasa, sedangkan dia seorang khalifah, sahabat Rasulullah pula, tak akan sampailah ilmuku menyamai perangainya. Tapi setidaknya aku mencoba. Walau kadang aku kalah. Amarah kembali meliputiku. Tapi aku terus mencoba berbuat sebaik mungkin”
Affan mengangguk.

“Masih banyak sifatku yang kadang membuat dia marah, padahal kau tahu, sedikitpun aku tak pernah sengaja membuatnya marah bahkan terluka hingga menangis. Semua hanya karena sifat alpaku. Kadang aku tidak merespon dengan cepat apa yg dia perintahkan, kadang aku lupa apa yg dia perintahkan, kadang ada hal-hal yang membuat dia kecewa karena kesalahan yang jujur saja tak pernah sengaja aku perbuat”

“Baguslah...”

“Maksudmu?”

“Ya, dia hanya marah padamu karena hal-hal kecil, itu berarti tidak akan ada peluang untukmu melakukan kesalahan besar” Dia memperjelas argumennya.

“Tentu saja, aku tak ingin sengaja berbuat kesalahan”

“Apa yang ada dalam pikiranmu sekarang?”

“Hmmm, aku hanya selalu berpikir untuk memperbaiki diri saja, mencoba semaksimal mungkin untuk menjadi orang yang sempurna untuk dia, karena biasanya masalah timbul dari hal kecil bodoh yang aku lakukan”

“Tapi tidak ada orang yang sempurna” Affan sedikit menyanggah pernyataanku.

“Ya aku tahu, biarlah ketidaksempurnaanku untuk hal-hal lain saja dalam hidupku, tapi dalam menjadi seorang suami, seorang ayah, aku mencoba sesempurna mungkin”

“Good luck for you”

“Loh, katamu kau tak bisa bahasa asing?”

“Kalimat itu aku tahu, sering aku mendengarnya, hehe...”

Aku hanya menggeleng sambil senyum.

“Mengapa kau ingin memperbaiki diri?” Affan melanjutkan pertanyaannya.

“Aku bukan ingin memperbaiki diri, tapi aku harus memperbaiki diri. Istriku adalah wanita yang telah Allah pilihkan untukku melalui doa-doaku. Surganya dan nerakanya kini ada di tanganku. Ragaku ini adalah raga yang akan terseret ke neraka jika dia berbuat maksiat. Sisa hidupku kini adalah untuk menafkahinya, padahal aku tak ada hutang budi sebelumnya, tapi itulah keistimewaan wanita, begitulah takdirnya. Aku harus berusaha memuliakannya, memperbaiki diriku dulu. Jika aku tidak bisa memperbaiki diriku, bagaimana aku bisa memperbaiki keluargaku.“

Seperti biasa, Affan hanya termenung Aku melanjutkan kalimatku. “Aku jadi teringat hadits yang diriwayatkan Ahmad, yang berbunyi ‘“Jika seorang wanita menegakkan salat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadan, menjaga kesuciannya dan mematuhi suaminya maka akan dikatakan kepadanya (di Hari Pengadilan), ‘Masuklah ke dalam surga dari pintu yang kamu sukai!’. Kau lihat betapa mulianya mereka? Kini tugasku adalah membuatkan jalan untuk menuju ke pintu surga yang akan dia pilih nanti. Tugas yang tidak mudah”.

“Betul sekali. Kembali lagi ke rumah tangga kalian, apakah ada komitmen yang kalian sepakati demi kelangsungan rumah tangga kalian?”

“Ya, tentu saja. Rumah tangga biasanya terganggu dengan konflik. Dan kami sepakat, untuk menghindari konflik, kami harus selalu terbuka dalam segala hal. Untuk menghindari intervensi, kami tidak melibatkan orangtua dalam masalah kami. Dan kami harus menyelesaikan masalah sesegera mungkin. Alhamdulillah, selama ini kami tidak pernah bertengkar berlama-lama.”

“Prinsipil sekali, teoretis, sedikit susah untukku mencernanya, hehe, adakah yang lebih simpel dan praktikal?”

Aku merenung sejenak. “Oh iya, berkomitmen untuk selalu berpamitan saat aku hendak pergi bekerja, tak peduli apakah kami sedang bertengkar. Kami berkomitmen untuk selalu berpamitan, dan mencium kening.”

“Untuk apa?” Tanya Affan singkat

“Memang begitu adanya, semoga perjalananku dirahmati Allah dan didampingi malaikat”

“Aamiin, semoga. Ada lagi?”

“Hmmm, apa ya, kalau aku pribadi. Aku melakukan itu karena aku sadar jika setiap hari itu selalu bisa menjadi hari terakhir kita” Aku sedikit tercekat.

“Ya, lalu?”

“Akan sakit untukku jika aku harus pulang menghadap-Nya, aku tidak sempat menciumnya, tersenyum dan mengucap salam”

“Akan sakit pula jika kita ditinggalkan, kita tidak sempat memberi senyum kepada dia yang ‘pulang’, betul?” Affan menambahkan

“Ya” Jawabku singkat

“Maaf membuatmu sentimentil”

“Tidak apa-apa, terimakasih sudah mengingatkan untuk selalu istiqomah melakukan hal itu. Semoga dia selalu ada untukku, sampai tiba ajalku”

“Kau berharap untuk mati duluan, kawan?”

“Ya, Aku selalu berkata demikian padanya. Bukan tega meninggalkan, tapi dia pasti bisa bertahan tanpaku, tapi aku lumpuh tanpa dia. Aku kini bukan satu, tapi satu per tiga”

“Baiklah, semoga kau dan keluargamu senantiasa dirahmati Allah. Terimakasih sudah berbagi, terimakasih sudah memberikan sedikit pencerahan”

“Tidak, kawan. Akulah yang harusnya berterimakasih, terimakasih karena kau telah membantuku mengingatkan tujuan hidupku, arti keluargaku, dan juga kembali mengingatkan aku untuk terus memperbaiki diri”

Affan menepuk-nepuk pundakku. “Aku pergi dulu kawan” Langkah Affan beriringan dengan suara adzan yang menyadarkanku dari tidurku.