Menjadi Pemenang yang Sesungguhnya (Sebuah Renungan Idul Fitri)

- 6/22/2017



Bulan Ramadhan sedang bersiap untuk pergi meninggalkan kita semua, pergi sementara untuk kembali setahun lagi. Ada perasaan haru ditinggal sang bulan mulia, ada juga perasaan senang bahwa kita sedang menanti datangnya sang hari kemenangan, hari ketika kita kembali suci, hari ketika kita mengaplikasikan apa yang sudah kita dapatkan selama sebulan sebelumnya, hari ketika kita menjadi pribadi-pribadi baru setelah digembleng sebulan penuh dalam ibadah Ramadhan.

Gema takbir yang selalu berkumandang menyambut 1 Syawal merupakan titik balik kita untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan melanjutkan hal-hal positif yang selalu kita laksanakan di bulan Ramadhan.

Lebaran bukan berarti kita bebas kembali melakukan hal yang dilarang di bulan Ramadhan...
Lebaran bukan berarti kita mengendurkan lagi semangat ibadah yang sebulan terakhir ini membara...
Lebaran bukan berarti kita melonggarkan lagi ikatan silaturahmi yang sudah direkatkan selama sebulan penuh...

Selama Ramadhan, kita tidak boleh makan dan minum di siang hari

Image Courtesy - Hisu Lee

Selepas ramadhan kita memang diperbolehkan makan dan minum di siang hari, tapi bukan berarti bisa kalap dan makan semaunya. Makanlah secukupnya, pada waktunya, dan janganlah berlebihan.

Teraturnya makan pada saat ramadhan akan sangat baik jika kita aplikasikan di 11 bulan yang lainnya.


Selama Ramadhan, kita harus menahan amarah

Image Courtesy - kinkate

Ramadhan adalah sarana pendidikan, jika kita berhasil menundukkan amarah kita saat puasa, sudah seharusnya kita sukses menjadi orang yang penyabar di bulan-bulan berikutnya.

Bukan berarti kita boleh menjadi orang yang pemarah lagi di bulan selain Ramadhan.


Selama Ramadhan porsi ibadah kita bertambah

Image Courtesy - Universitas Yarsi

Ketika ramadhan tiba, porsi ibadah kita bertambah dan kualitasnya meningkat. Sholat 5 waktu dilaksanakan, sholat sunat lainnya dikerjakan, sholat tarawih diamalkan, membaca Al-Qur'an digiatkan. Tapi sayangnya banyak dari kita yang begitu selesainya bulan Ramadhan, ibadahnya menjadi biasa-biasa lagi. Jangankan sholat sunat dan membaca AL-Qur'an, sholat wajib saja kadang diabaikan.

Kalau kita bisa melakukan ibadah-ibadah dengan porsi banyak di bulan ramadhan tadi, seharusnya tidak sulit untuk membenahi lagi solat wajib kita yang "hanya" 5 waktu.


Ramadhan, dompet mempunyai budget ekstra untuk sedekah

Image Courtesy - suaramuhammadiyah

Di bulan puasa, biasanya kita menjadi lebih rajin memberi. Itulah sebabnya ada rumor yang berkembang jika para pengemis bisa mendapatkan uang berlipat saat bulan ramadhan, timbullah pengemis musiman.

Di bulan ramadhan, semua pahala memang dilipat gandakan, tapi bukan berarti kita hanya bersedekah di bulan ramadhan saja. Di bulan ramadhan, kita belajar memberi, seharusnya di bulan lainnya kita sudah pandai memberi, ilmu ikhlasnya ditingkatkan, jumlah sedekahnya pun ditingkatkan.

Sedekah tidak akan membuat kita miskin guys...

***

Jika Kita Mengibaratkan Ramadhan Sebagai Sekolah

Ramadhan itu sarana pendidikan, jika diibaratkan sekolah, maka ramadhan adalah masa ujian. Ketika sekolah melaksanakan ujian, otomatis kegiatan kita bertambah, pengayaan materi, bimbingan belajar, pembahasan pelajaran, pelatihan-pelatihan. Tujuannya apa? agar kita menjadi siswa yang lebih terampil, yang siap menghadapi ujian dan sukses melewatinya. Agar kita bisa mejadi pribadi yang naik levelnya, pribadi yang lebih baik dari sebelumnya.


Maka Idul Fitri Adalah Hari Kelulusannya...

Setelah melewati perjuangan yang berat, maka tibalah kita di hari kelulusan, dimana kita berhasil meningkatkan kualitas diri kita, dimana kita berhasil meningkatkan level kita, dimana kita telah bertransformasi menjadi manusia yang lebih berbobot dan bermanfaat.

Setelah kita naik level, apakah kita rela kita terdegradasi ke level sebelumnya? Tentu tidak...

*** 



Mari jadikan Idul Fitri ini hari kelulusan kita, hari kemenangan, hari kita berhasil melewati pendidikan untuk menjadi pribadi yang lebih kuat dan tangguh, lebih baik, lebih berkualitas. Bukan menjadi pribadi yang turun tingkatannya.

Puncaknya adalah saling meleburkan kesalahan, saling memaafkan, saling mengikhlaskan. Karena seorang pemenang sejati tidak berarti tanpa silaturahim yang baik antar sesamanya...



*artikel ini tersedia juga di sini