Kita yang berbeda

- 6/07/2017

Terimakasih mau berteman denganku meski harus sakit.


Kamu tetap teman terbaik, pertemuan pertama kita saat itu menjadikan kita sangat akrab. Berbagi cerita sembari berkeliling menikmati kota. Ah rasanya aku seperti memiliki teman baru, padahal dia teman lama yang tidak aku kenal sebelumnya. Sepertinya apapun masalah yang kita miliki, selalu berakhir dengan saling memberi solusi. Kamu teman yang asik pikirku saat itu.

Setelah pertemuan itu kamupun berlalu meninggalkan kota ini dan merantau ke ibukota, tapi komunikasi kita tidak pernah terputus. Entah alasan apa yang membuatmu kembali mengunjungiku tapi terimakasih karena kamu selalu menyempatkan bertemu ketika aku benar-benar membutuhkan teman. Terimakasih untuk waktu yang kamu sempatkan untuk sekedar bertukar cerita dan berjalan-jalan bersamaku.


Alasan yang terutarakan


Akhirnya aku mendengar alasanmu selalu menghubungiku setelah kelulusan, alasan tentang waktu yang kamu luangkan untuk berkunjung ke kotaku. Terimakasih atas pengakuanmu dan aku bersyukur masih memiliki kesempatan untuk menikmati hari denganmu meski waktu tak tentu. Alasan kita asing selama tiga tahun di satu sekolah yang sama mungkin karena aku pendiam dan kamu pemalu. Rasanya jarang sekali aku berteman akrab dengan lawan jenis semasa sekolah.


Ternyata kita memiliki rasa


Ah, rasanya aku bingung ketika ternyata kita memiliki rasa yang sama. Tapi kita harus sakit. Perasaan kita yang sama tapi tidak iman kita. Perbedaan yang sudah sangat jelas inilah yang kamu takutkan, dan benar akupun takut. Kita saling menjaga, kita saling memahami tapi untuk hal satu ini terlalu berat. Aku tidak pernah tau sejak kapan kamu memiliki perasaan itu, jelasmu sejak kita satu sekolah. Tapi kamu muncul baru-baru ini. Ah aku benci pengakuanmu bukan kamu, kita berbeda dan kamu tau. Kita berbeda dan semesta tidak akan mengijinkan.

Setelah kamu menemuiku untuk ke sekian kalinya, kamu memberiku penjelasan. Mungkin kita tidak bisa bersama tapi kita bisa menjadi teman baik. Ah aku sedikit ragu. Tapi kamu selalu mendukung apapun yang aku lakukan dan kamu masih tetap menemaniku sebagai teman. Terimakasih telah menjadi teman yang baik selama ini. Aku percaya kita akan menemukan orang yang tepat. Terimakasih telah memberiku waktu berhargamu ketika seringnya kamu berkunjung ke kotaku.

Aku masih mengingat janjimu, kita akan saling bertukar cerita ketika masing-masing dari kita sudah memiliki kehidupan baru. Kamu akan tetap berkunjung ke kota ini dan tetap menjadi temanku. Terimakasih telah memberi kesempatan untuk kita saling mengutarakan rasa meski nyata menyakitkan. Tapi bukankah lebih indah ketika rasa tidak menyatukan kita tetapi pertemanan kita tidak pernah terhenti.