Hanya Sepucuk Rindu Untuk Masa yang Telah Berlalu

- 6/07/2017



Apa kabar harimu tuan? Aku merindukan candaan di malam itu. Aku merindukan cerita malam itu. Dan akupun merindukan perdebatan hebat di antara kita yang membuat tujuan tak lagi sama. Aku bukan merindukan tujuan yang berbeda tapi aku rindu melihat perdebatan yang selalu selesai dengan baik. Ah mungkin arah tuan memang sudah berbeda sejak saat itu. Hanya langkahku yang terlalu bersemangat hingga aku lupa kita bukan apa-apa bahkan belum seutuhnya saling memiliki.

Secangkir kopi malam ini tidak begitu terasa, mungkin ingatan tentang tuan sedang mengacaukan banyak pertanyaan di kepalaku. Ah apakah tuan masih terbiasa dengan kopi ketika malam tak dapat merayumu ke dalam pelukannya? Apakah kesukaanku dengan secangkir kopi akhir-akhir ini bisa membuat tuan memiliki tujuan yang sama denganku lagi? Khayalanku mulai tidak beraturan, bahkan sampai matahari mulai memberikan sinarnya.

Celaka, aku tidak tidur karena pikiranku kacau. Ah tuan aku ingat bagaimana tuan menemaniku melalui telepon ketika malam membuatku terbangun di setengah pelukannya, hingga tak sadar aku meninggalkan tuan untuk kembali dalam pelukan malam. Semakin hari aku rasa kantung mataku mulai menghitam, seperti zombie yang takut sinar matahari. Tapi tak apa, aku senang ingatanku tentang tuan masih bersemayam di kepalaku.



Banyak yang belum kita selesaikan tuan. Mungkin lebih baik begini, ah tapi tidak baik tuan. Aku selalu ingin membunuh pertanyaan yang belum aku pahami jawabannya. Apa aku semengerikan itu sampai tuan tidak kembali? Apa tuan masih mengunjungi tempat yang sering kita datangi? Aku masih sama seperti hari itu, berharap tuan ada disana. Kota ini sempit tuan, tapi aku merasa tuan berada di belahan bumi berbeda.

Tuan, jika kamu sedang berbahagia maka maafkan aku yang masih memikirkanmu. Jika kamu sedang resah, maka aku berharap dia bisa mengatasi keresahanmu. Aku masih sama seperti saat itu, menunggu di kursi itu sembari menikmati udara yang semakin dingin. Sesekali aku membeli barang yang membuatku seperti ada di dekatmu. Aku tidak punya nyali untuk menemui tuan meski ada yang harus aku kembalikan. Tapi jangan khawatir aku baik-baik saja. Ku harap tuan selalu baik-baik saja.