Aku, Kamu, dan Hujan

- 6/07/2017



Akan ada saatnya kita harus mengerti apa yang tidak kita pahami.

Aku perempuan yang melihatmu dari kejauhan, kamu lelaki yang berjalan menjauh dari pandanganku. Dan hujan selalu memberikan cerita di antara kita.

Menatapmu sudah menjadi kebiasaanku

Seringkali aku masih menatapmu dalam diam, memandangimu dari kejauhan adalah menjadi kebiasaanku. Jangankan berbicara, menatapmu dari jauhpun rasanya sangat mendebarkan. Jantungku berdegup kencang, bukan.. ini hanya berdegup lebih kencang dari biasanya. Sesekali aku mencari tau keadaanmu melalui sosial media. Aku, perempuan yang dengan segala ketertinggalannya tentang hal baru mulai menikmati kebiasaanku menatapmu seperti ini.


Kupastikan rasaku salah



Terlihat tidak seperti biasa, aku yang pernah berjalan di dekatmu merasa ada yang berbeda. Apa karena aku belum menerima kalau kita tidak mungkin bersama? Atau aku belum siap kehilangan? Perasaan macam apa ini? Mungkin aku terlalu berlebihan tapi aku belajar banyak hal dalam diam. Memastikan apa yang aku rasa salah. Kita pernah berjalan, kita pernah jatuh, dan aku ingat.


Kamu yang masih terlihat sama



Siang itu entah angin apa yang membawamu menemuiku, membujukku menikmati macetnya jalanan kota yang semakin parah. Tentu saja aku tidak menolaknya meskipun awalnya ragu, tapi kamu selalu berhasil membujukku dengan berbagai cara yang biasa kamu lakukan. Rasanya sudah bertahun-tahun kita tidak seperti ini atau aku saja yang berlebihan? Bagaimanapun kamu masih tetap sama seperti dulu, ketika pertama kali mengenalmu dan kamu masih terlihat dingin. Kita sepakat untuk saling mendukung apapun yang kita jalani satu sama lain meski jalan kita sudah berbeda. Aku berusaha mendamaikan hati dengan semua celotehanmu. Rasanya tak karuan dan jantungku semakin berdegup kencang.


Jarak yang harus aku pahami



Kapan terakhir kali kita saling menyapa? Bertukar cerita dan saling memberi semangat? Ah aku paham, setelah hari itu aku menyadarinya. Jarak yang semakin jelas membuatku untuk lebih berdamai dengan keadaan. Kini sudah ada dia, perempuan beruntung yang tentu lebih baik. Tapi matamu tak berkata begitu, aku melihat keresahan dalam matamu. Tapi aku percaya kamu pandai menjaga keadaan. Apapun alasannya saat itu, jelas terbaik untuk kita meski nyata harus saling menyakiti.


Kita tidak lagi tercipta untuk saling mengisi



Waktu terasa semakin cepat berlalu ketika kamu mulai asik dengan candaan yang sudah lama aku rindukan. Tapi aku sadar kita hanya orang asing ketika hujan turun. Jangan salahkan dirimu ketika ternyata kita harus saling melepaskan. Ketidakmungkinan kita untuk bersama sudah aku pahami, memang sudah waktunya kita untuk saling mengikhlaskan. Mungkin akan ada rencana yang jauh  lebih hebat untukku di depan sana, mungkin akan ada cerita baru untuk kita berbagi satu sama lain di masa depan seperti katamu saat itu. Aku rasa pertemuan kali ini takkan membuat adanya pertemuan selanjutnya. Kita tau dan sama-sama tau, waktu telah merubah segalanya yang menuntut kita untuk terbiasa dengan keadaan seperti ini. Kepergianmu selalu ditemani hujan, dan mungkin ini kali terakhir aku melihat punggungmu yang semakin menjauh lalu menghilang.

Akhirnya pemeran harus saling melepaskan



Aku perempuan yang menyukai hujan sebelum akhirnya bertemu dengan hujan yang membuat semua berubah. Aku tak menyalahkan hujan, aku masih menyukai hujan. Bagaimanapun aku merasa lebih tenang dari biasanya. Aku mendapat hal baru darimu dan hujan. Darimu aku tau manusia tak boleh berharap lebih selain kepada penciptanya, dari hujan aku tau bagaimana rasanya jatuh. Kita tercipta untuk saling mengisi yang akhirnya harus saling melepaskan. Kita ada untuk menjadi pemeran hebat dalam skenarioNya. Bagaimanapun kita saat ini, aku tau aku harus tetap berjalan dan kamu akan tetap baik-baik saja. Akan ada saatnya nanti aku berhenti menatapmu, meninggalkan harapan yang pernah bergantung di kepalaku tentang kita. Sampai tiba saatnya waktu menunjukkan masing-masing dari kita memang baik-baik saja.