7 Alasan Mengapa Sebaiknya Memulai Pernikahan Dari Nol

- 6/07/2017







Sebelum menikah, ada banyak orang memang sudah memiliki kehidupan yang nyaman. Punya uang yang banyak, kendaraan yang sudah siap, dan rumah dengan isi yang sudah lengkap. Baik itu mereka cari sendiri, ataupun bentuk kasih sayang orangtua yang diberikan kepada mereka. Dengan kondisi demikian, rasanya tidak sulit untuk mereka melanjutkan hidup ke jenjang selanjutnya; menikah.

Namun ada juga beberapa orang yang hendak memulai pernikahannya dengan kondisi pas-pasan. Keuangan yang belum stabil, tinggal di kos-kosan, tidak punya kendaraan layak, dan sejumlah keterbatasan lainnya. Tapi keadaan demikian tidak seharusnya membuat kita putus asa dan ragu untuk menikah. Asal kita berjanji untuk memperbaiki diri, keterbatasan-keterbatasan tersebut justru bisa menjadi kekuatan bagi kita di kemudian hari. Tidak ada salahnya kita memulai pernikahan dari nol.

Justru dengan memulai pernikahan dari nol, kamu akan…..


1. Lebih menghargai hidup


Ketika kamu sudah berhasil melewati berbagai fase dalam hidup, kamu pasti mengerti jika hidup ini membutuhkan perjuangan yang tidak mudah. Misalnya perjuanganmu menempuh pendidikan, kamu memulai semua dari tidak tahu apa-apa, dari sebuah situasi dimana huruf-huruf dan angka-angka adalah hal yang asing bagimu. Hingga kamu akhirnya menjadi sangat cakap dan terampil menyusun huruf dan angka tersebut menjadi sebuah kitab yang dinamakan skripsi atau tesis. Butuh waktu yang sangat lama, bukan? karena itulah kamu akan sangat menghargai usahamu, dan bangga akan gelarmu.
Pun ketika kamu memutuskan untuk memulai pernikahanmu dari nol, kamu akan menyadari bahwa ternyata masih ada fase lain dalam hidup yang perlu kamu hargai keberadaan dan prosesnya. Sesuatu yang lantas kamu sadari bahwa menjalaninya jauh lebih sulit daripada usahamu mengumpulkan rupiah demi pestanya. Ya. Pernikahan. Dengan menghargai pernikahanmu, berarti kamu juga menghargai hidupmu.

2. Terlatih menghadapi kesulitan hidup…


Hidupmu tidak mungkin selamanya mulus. Tantangan, hambatan, dan rintangan pasti selalu mengiringi perjalanan hidupmu. Begitupun dengan pernikahanmu, kamu tidak akan bisa menolak kerumitan-kerumitan yang mungkin menghampiri rumah tanggamu. Dan ketika di masa depan nanti kamu mendapatkan kesulitan-kesulitan tersebut, kamu akan terbiasa menghadapinya, karena di masa lalu, pada fase awal pernikahanmu, kamu sudah terbiasa berjuang menghadapinya bersama-sama.

3. Menikmati proses perkembangan hidupmu…


Kamu mungkin memulai pernikahanmu dengan “kemana-mana jalan kaki”, atau asyik melaju dengan motor bututmu yang sebenarnya sudah minta pensiun dan sering rindu montir kesayangannya. Lalu perlahan mengganti si butut itu dengan motor baru biarpun masih nyicil. Dan ketika buah hati kalian hadir, kalian sadar jika anak-anakmu tidak bisa terus-menerus kau angkut dengan roda duamu. Mulailah kamu mencari mobil-mobil second layak pakai. Bukan mobil canggih keluaran baru, tapi setidaknya bisa melindungi istri dan anak-anakmu dari terik matahari dan guyuran hujan.
Episode hidup yang selalu bisa kau nikmati. Ada kebanggaan tersendiri ketika kau berhasil menapaki sedikit demi sedikit anak tangga kehidupan menuju hidup yang lebih baik. Bukan melulu soal materi, tapi juga kualitas dirimu, prosesmu mengubah perangai kerasmu menjadi sosok ayah yang penyayang, atau sikap pemarahmu menjadi sifat sabar ketika kau harus mendidik keluargamu.

4. Memiliki ikatan pernikahan yang kuat dan tidak mudah goyah…


Dewasa ini banyak sekali pasangan muda yang memilih mengakhiri hubungan pernikahannya yang masih seumur jagung, dan bahkan banyak pula pasangan yang sudah menjalani pernikahannya selama belasan atau puluhan tahun mengakhiri hubungan mereka begitu saja. Well, Mungkin kita memang hanya bisa melihat dari luarnya saja, kita tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada kehidupan rumah tangga mereka. Tapi setidaknya, kita bisa mengambil pelajaran dari kejadian-kejadian tersebut.
Kamu tahu sulitnya berjuang bersama-sama menggapai impian, kamu paham indahnya saling menopang dalam setiap kesulitan, dan kamu pun mengerti rasanya bersabar ketika materi sedang sangat pas-pasan. Semoga hal itu semua dapat menjadi pertimbanganmu untuk selalu berusaha melanggengkan hubungan hingga maut memisahkan.

5. Punya kekuatan untuk mengajarkan arti perjuangan kepada anak-anakmu


Bimbing dan didiklah anak-anakmu agar menjadi pribadi yang tangguh dan tahan banting. Agar mereka siap menghadapi segala kondisi hidup. Mereka harus tahu bahwa ketika mereka menjalani kehidupan kelak, keadaan tidak selalu berjalan sesuai kehendak kita.
Dengan segala pengalaman yang kamu lalui, kamu bisa mengajarkan arti perjuangan yang sesungguhnya pada mereka. Bukan cuma dongeng pembangkit semangat, bukan cuma kutipan kalimat para motivator, tapi kisah sesungguhnya yang telah kamu lalui, kisah yang selalu bisa mereka ambil pelajaran darinya.

6. Menghindari dominasi salah satu diantaramu…


Ketika kalian memulai segalanya bersama-sama dari nol, maka apapun yang kalian miliki adalah milik bersama. Misalkan motor, mobil, atau bahkan rumah. Dengan demikian tidak akan ada dominasi dari salah satu di antara kalian, tidak akan ada situasi yang memungkinkan kalian bersikap egois atau berkata “Ini mobilku”, Ini rumahku, dari orangtuaku”.
Ingatlah, pernikahan adalah suatu sinergi, suatu kerjasama, bukan ajang pamer kekuatan atau pelampiasan ego…

7. Memiliki alasan yang sangat kuat untuk setia pada pasanganmu…


Ketika godaan datang, ingatlah dia yang tidak pernah mengeluh akan uang yang selalu hampir habis. Ketika ada seseorang yang mencoba merebut hatimu darinya, ingatlah dia yang mengangkat dan memapahmu dari keterpurukan. Dan ketika terbersit dalam pikiranmu untuk melabuhkan cintamu di hati yang lain, ingatlah dia yang selama ini mengorbankan hidupnya dan kesenangannya demi dirimu dan buah hatimu.

Ingatlah, sebanyak dan sebesar apapun kesuksesan yang kau raih dalam hidupmu, tidak ada artinya jika kau gagal untuk setia pada satu hati yang membawamu ke sana, ke puncak kesuksesanmu…